Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Heboh! Kevin Entot Anus dan Meki Setiap Hari 1

 Tradingan.com - Namaku Kevin bukan salahku kalau aku terlahir berbeda dari yang lain. Kalau aku bisa memilih lebih baik aku tidak pernah dilahirkan. Setidaknya itu kata hati kecilku, satu-satunya unsur kebaikan yang tersisa dalam diriku.

Aku berasal dari keluarga warga keturunan yang minoritas di negeri ini. Ayahku pengusaha yang berhasil dan cukup kaya. Aku kira cukup beralasan mengingat dia memiliki beberapa toko elektronik di Mangga Dua serta beberapa toko kelontong yang tersebar di kawasan Pisangan, Kelapa Gading dan Pasar Baru. Disamping itu ia adalah pemilik sebuah bengkel yang cukup besar di daerah Kemayoran. Kami sekeluarga tinggal di kawasan Pantai Mutiara Pluit. Aku adalah anak ke-3 dari 4 bersaudara dan satu-satunya anak laki-laki di keluargaku. Kakak laki-laki tertuaku meninggal waktu masih SMA sekitar lima tahun lalu.


Keluargaku jauh dari harmonis. Ayah bagiku lebih mirip diktator yang kejam serta berhati dingin. Ibu dan saudara-saudara perempuanku pun tidak jauh berbeda. Di dalam keluarga aku dianggap anak pembawa sial. Aku tidak tahu apa sebabnya demikian, yang jelas kakak tertuaku yang sudah meninggal merupakan putra kesayangan ayah dan ibu, juga idola buat saudari-saudariku yang lain. Semenjak kematiannya keadaanku semakin memburuk karena bila terjadi hal-hal yang kurang baik dalam keluargaku, maka akulah yang dianggap sebagai penyebab.

Sejak kecil aku akrab dengan sumpah serapah bahkan kutukan dari orang tuaku maupun saudara-saudaraku yang lain. Pukulan badan menjadi makanan sehari-hari bahkan untuk kesalahan yang paling sepele sekalipun. Akan tetapi secara keuangan aku tercukupi dan aku mulai terbiasa bahkan menyukainya. Siapa butuh keluarga bila kita punya uang? itu yang ada dalam pikiranku. Sadar atau tidak sadar aku memupuk dendam. Aku tidak tahu kapan dan bagaimana membalas segala perlakuan ini. Yang jelas aku menikmati perasaan dendam dan amarah dalam batinku. Ayah bagiku adalah iblis yang selalu menghalangi jalanku. Dalam hatiku aku berharap agar dia segera lenyap dari dunia ini. Ibu bagiku bagaikan wanita yang tidak tahu diri dan hanya mabuk dalam kesenangannya akan kemewahan. Sedangkan kakak dan adik perempuanku ibarat pelacur-pelacur binal yang mencari muka pada sang iblis demi kepuasan dan kemanjaan mereka. Semuanya berjalan seperti itu sampai pertengahan bulan Mei tahun 1998. Aku menyebutnya sebagai Hari Penghakiman.

Saat itu usiaku 21 tahun dan masih kuliah di sebuah PTS di Jakarta Barat. Aku ingat saat itu terjadi kerusuhan di Jakarta dan keadaan sedang panik. Aku tinggal di kawasan yang mayoritas penduduknya adalah warga keturunan yang saat itu sedang dilanda ketakutan yang amat sangat. Beberapa tetangga telah mengungsi, tapi ayahku dengan sifat arogannya (seperti biasa) bersikeras untuk tetap tinggal di rumah. Dia berkata kalau dia sudah menghubungi kenalannya seorang yang berpangkat di militer untuk melindungi daerah tempat tinggal kami. Nyatanya itu adalah arogansinya yang terakhir.

Saat itu pukul setengah sebelas malam, ketika aku terbangun karena suara gaduh di rumahku. Bibir dan mataku masih lebam dan kakiku masih terpincang-pincang bekas di pukul ayahku dengan raket tenisnya karena malam sebelumnya aku keluar membawa mobil Mercedes Benz kesayangannya. Aku mendengar suara teriakan dari luar. Salah satu suara yang kukenali adalah suara ciciku yang kamarnya satu lantai denganku di lantai atas. Terdengar juga suara bentakan yang keras. Jelas bukan suara bentakan ayahku yang kudengar. Dengan tertatih-tatih aku segera membuka pintu menuju arah suara itu. Wajib baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia