Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Viral! Kevin Entot Anus dan Meki Setiap Hari 2

 Aopok.com - Selanjutnya aku seperti setengah sadar bergerak kalap megayunkan parang ke arah para penjarah itu. Si brewok adalah yang pertama roboh. Lehernya kurobek sebelum dia sempat mencabut cluritnya. Kemudian kulihat si cepak menyerangku dengan parangnya tapi bagiku segalanya terlihat bagai dalam film gerak lambat. Dengan mudah kuhindari sabetan parangnya, lalu dengan penuh amarah aku mambacok kepalanya. Darah bercampur cairan putih muncrat dari ubun-ubunnya saat aku belah dengan parang! Aku agak tersadar ketika melihat si gondrong dengan belatinya mengiris leher Mirna adiku. Aku terdiam ketika darahnya muncrat ke tembok, lalu tubuhnya roboh ke lantai dengan mata terbelalak. Aku bahkan belum bereaksi ketika si gondrong menyerangku dengan belatinya.


Tiba-tiba kesadaranku seperti terenggut kembali dan tubuhku bergerak menghindari hujaman belatinya sehingga hanya melukai pundak sebelah kananku. Si gondrong tersungkur karena kehilangan keseimbangan. Kujambak rambut gondrongnya, lalu.. “Kematian telah menggenggam tanganku, di tanganku ada kematian!” aku bergumam tanpa sadar. Masih kudengar si gondrong memohon ampun padaku tapi tanganku segera mengayunkan parang dengan cepat. Sedetik kemudian aku berdiri dengan parang penuh darah di tangan kananku dan menenteng kepala manusia di tangan kiriku, Darah! Maut!

Kesadaranku kembali pulih dan mataku menyalang menatap sekeliling. Rupanya teman-teman penjarah tadi sudah pergi mambawa barang jarahannya. Aku melihat tubuh ayahku tergeletak penuh lubang menganga lalu Mirna adiku mati dengan leher nyaris putus kemudian ibuku tergeletak membelalak dengan usus terburai, dua tubuh penjarah dengan luka bacok serta seorang penjarah yang tewas dengan kepala putus. Darah di mana-mana, di lantai, di tembok, bahkan di atas tubuh telanjang ciciku. Kubuang parang di tanganku lalu menghampiri ciciku yang masih terikat bugil di atas meja. Dia saksi dari apa yang telah kuperbuat di sini. Dia menatapku dingin, dia seperti melihat orang asing. Ada sebersit rasa takut di matanya. “Kevin apa yang kamu lakukan!” suaranya kosong. “Kenapa kamu bunuh Papa!” dia berucap dingin seperti tidak benar-benar berniat mengucapkan kata itu. Sejenak aku memandang wajahnya lekat, ciciku memalingkan wajahnya dariku sambil berucap pelan, “Pembunuh!”. Aku tidak menghiraukan ucapannya karena tiba-tiba aku jadi memperhatikan tubuh telanjangnya yang tergolek telentang di depanku. Hatiku berkata untuk menuntaskan semua dendamku. Ayah, ibu, adiku telah tewas demikian juga para penjarah yang menodai ciciku dan menghancurkan keluargaku, semuanya telah kubunuh. Tinggal Irene ciciku di sini. Ah sekalian saja aku merebut kemenangan yang sempurna hari ini, bisik naluriku.

“Kevin lepasin cici”, suara ciciku masih gemetaran karena masih shock akan kejadian tadi. Aku pun heran karena dia cukup tegar untuk orang yang baru mengalami penyiksaan dan teror. “Cepat lepasin Kev!” ciciku mengulangi perintahnya, kali ini lebih keras suaranya. Tubuh telanjangnya telah mambiusku. Aku segera mencopot celana dan celana dalamku dengan cepat. “Keviin!” Irene memekik. “Mau ngapain kamu?” cici terkesiap melihat batang kemaluanku yang sudah berdiri tegak. Mungkin punyaku tidak sebesar batang kemaluan pemerkosa tadi tapi ciciku pasti kaget dan tidak menyangka kalau batang kemaluanku yang waktu masih kecil biasa dilihatnya hanya sebesar jempol tangannya, kini besar dan kokoh. (batang kemaluanku panjanganya 15 cm). Kusentuh payudaranya dengan kedua tanganku, rasanya dingin bagai seonggok daging. Wajib baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia